SEMUA MEMIKIRKAN BUNGA

Jangkrik?? Apakah yang harus kulakukan??
Ketika bunga malam tak menyapaku
Ketika kapas miliknya tak datang menghampiriku
Aku selalu gundah dengan gagah menciutkan roh dalam jiwa untuk merantau

Penghuni jalanan?? Apakah yang harus kulakukan?
Bunga malam tlah berubah menjadi bunga matahari
Ketika aku lihat wajahnya, aku ingin menyapanya
Namun bibir dan otak tlah kompak entah apa yang mereka rencanakan
Membuatku tak berdaya untuk berkaca dan bersapa dengannya

Berkaca dengannya bibir ini selalu terbuka dengan manis
Bersapa dengannya hati ini selalu merekah
Ketika kulihat sang pujaan Inginnya seperti itu
Tapi semuanya berbeda dengan keinginan



Jantung berhenti, nafas terhenti dan anginpun berhenti
Panas tak pernah pergi dihatiku yang ada hanya tingkah ini yang semakin berbeda
Sang bunga sendiri tanpa kumbang hati tenang
Sang bunga dihampiri kumbang dan bercengkrama
Hati ini benderang menjadi api yang melumpuhkan semua yang mengaktifkan tubuh

Padahal bunga tak terlalu indah, cantik, dan rupawan
Bunga hanya biasa saja tak seperti bunga yang berharga miliaran
Yang selalu ingin dimiliki semua orang

Bunga ini hanya bunga jalanan yang terpanggang matahari
Bunga yang sering terguyur hujan dari penjuru kota
Kesabaran bunga, semangat bunga, motivasi bunga, dan pancaran bunga
Itulah yang selalu ku puja dan ku damba menjadi cinta

selengkapnya

TIMUR TENGAH III


Aku hanya bisa tertegun
Aku hanya bisa tercengan melihat itu semua
Semuanya telah hangus penuh arang
Rumah, gedung, bahkan tubuh manusia tak berdosa ikut hangus

Ketika hitungan ketiga terucap
Puluhan roket yang turun dari besi berani yang disulap menjadi sesuatu yang canggih
Percikan-percikan api panas harus terasa dengan terpaksa
Getaran-getarannya mencoba mengalahkan hati
Letusannya telah membuat telinga ini tak mendengar
Itulah dahsyatnya senjatamu sang pengecut

Kepulan asap hitam beterbangan diantara cuaca yang menerawang
Mencoba menggumpal menjadi mendung diantara jutaan mata manusia
Manusia yang masih punya rasa dan hati
Memaksa mencucurkan air mata penuh dengan nanah
Nanah yang membuat sakit dibagian tubuh tak berdosa

Luka mereka adalah luka para penghuni bumi
Tangis mereka adalah ratapan para penghuni syurga
Jerit mereka membangunkan burung bangkai dari tidurnya
Burung yang akan segera berpesta untuk menyantap bangkai-bangkai suci

Tanah peninggalan Tuan Arafat tersiksa
Tak rela jika harus menjadi milik Tuan Ehud
Aku bersama jutaan umat muslim tak rela
Jangankan tanah nyawa saudara-saudarakupun tak ingin melayang ditangan iblis bermuka nabi

selengkapnya

ZIONIS KEMBALI BERAKSI

Genderang perang mulai terang
Seiring terdengar tiupan angin bulan perdamaian
Kekezaman zionis kembali memakan korban
Tujuh ratus nyawa melayang
Ribuan orang berlomba untuk sembuh

Letupan meriam menjerit ditanah palestin
Jeritan anak kecil menambah terngiangnya penderitaan
Rumah-rumah kini telah jadi puing-puing
Gedung-gedung telah menjadi keriting

Ini tak adil……………
Senjatamu sungguh canggih wahai zionis
Sementara kami hanya bisa menangis
Menangis karena teriris oleh kezamnya zionis




Ya allah kirimkanlah lagi burung ababilmu
Biarkanah burungmu membawa kerikil panas
Jadikanlah gaza sebagai kuburan bagi yahudi itu
Lemparkanlah batu kerikil seperti lemparan bom mereka
Tembakkanlah hingga menembus dada mereka yang penuh keangkuhan

Sementara sekutu kami hanya bisa membantu semampunya
Mereka terpaku oleh perkumpulan tertinggi dimuka bumi ini
Perkumpulan yang dihuni oleh pendukung yahudi
Mereka membiarkan bumi ini hangus
Mereka membiarkan tanah yang secuil ini di rampas

Diatas langit ke tujuh nyawa-nyawa yang menjadi tumbal menangis
Semoga tangisan mereka mengucur dan berubah membeku menjadi paku
Paku tajam yang akan hinggap dikepala sang penjajah
Yang menamcap hingga tembus ke dasar bumi ini

Jutaan tangan menengadah ditiap-tiap sudut di muka bumi
Milyaran doa dipanjatkan dengan hati tergetar
Trilyunan asa tertanam disetiap doa yang dipanjatkan
Trilyunan asa menyelinap di dalam luka saudara-saudara kita disana
Akankah berakhir dengan hasi imbang
Ataukah harus ada pemenang dengan darah dan nyawa sebagai sayarat

selengkapnya

SEMUT TERINJAK LAGI

Orang sekarang tak boleh sedikitpun mendapatkan kekuasaan
Merasa aku yang paling tinggi
Semuanya tidak pernah bertanya
Karena menurutnya tidak perlu bertanya dan tak takut kepada siapapun

Segala macam dimakan
Tak ada yang berani memarahinya takut dengan kekuasaan
Segalanya diambil tak ada yang berani nyerobot
Takut kalau nantinya malah diserobot

Orang kecil itu sukanya cuma nasi
Itupun hanya senin kamis walaupun hanya dengan buncis
Orang besar malah banyak yang tidak waras
Merasa besar merasa besar yang besar
Semua yang dimau hanya yang besar

Gunung, sungai, kebun, laut, sawah
Sampai-sampai keringat orangpun dimakan
Mumpung ada kesempatan mumpung kuat dengan jabatan




Orang sengsara walaupun hidup sengsara
Kalau harus maling pikir-pikir dulu
Tapi yang kaya yang segalanya ada
Semua mencuri uang negara tanpa dengan rasa

Yang kecil orang melarat masih banyak yang melakukan shalat
Mereka merinding hamper mati jika melakukan maksiat karena takut
Kenapa orang konglomerat banyak yang jadi bangsat
Moral bejat iman renghat yang besar konglomerat
Banyak yang menjadi bangsat

Yang banyak uang di bank mendadak membeli gudang
Banyak oknum haram jadah berpesta menimbun barang
Sembako….sembako kemanakah sembako
Sembako bingung terkapar diem digudang orang gila
Orang kecil seperti semut sebentar-sebentar keinjak

selengkapnya



Tiga orang hawa dengan usia bervariasi
Si kecil terlena dengan mata dan kehidupan yang tak normal
Si sedang terlena dengan kaki, rambut dan keadaan yang tersisir tak menentu
Si dewasa tersirat memamerkan celana dan kaki yang robek tak beralas

Dengan keadaan seperti itu mereka mencoba menjual suaranya
Dari bus ke bus ia datangi dengan suara yang lebih bagus suara kentut
Beberapa lembar amplop mereka siapkan untuk kotak imbalan
Lagu yang sedang up to date pun dinyanyikannya

Hanya dengan okulele dan suara kedua tangan yang sengaja diadukan
Mereka asik bernyanyi dan penuh penghayatan
Hingga suara dan musik tak sehati
Orang-orang hanya tertawa menyembunyikan rasa iba




Diambilnya oleh si kecil kotak imbalan yang telah dibagikan kepada penghuni bus
Dihitungnya di bangku belakang yang kosong melompong
Dibagikannya amplop itu satu banding lima belas
Dilihatnya amplop itu apakah berisi ataukah jadi risih

Inikah calon penerus bangsa????
Inikah sang pengganti nona kartini???
Yang dibiarkan terlantar dan diperas oleh tangan yang tak bertanggung jawab
Apakah ini keinginan mereka atau bukan???

selengkapnya




Muka rantau yang tak pernah hilang dibalik keadaan
Memaksa untuk mencoba menggapai mimpi
Walau tangan tak lagi mengepal
Meski kaki tak lagi bertulang

Namun apa yang ia inginkan pastilah harus tercapai
Sorak sorai gemericik liur disekitar
Mengalir tanpa permisi menghantam hati yang luka
Memandang remeh seorang yang tak akan pernah terbunuh oleh hal seperti itu





Bukti nyata akan segera datang dan menghentikan muncrat liur di sekitar
Bukti kegigihan akan segera hadir diantara kerasnya perjuangan
Semua akan tercengang dan terpana seperti patung pancoran
Semua akan mengangkat tangan dengan senyum terpaksa mengobati rasa malu di dada

Ia hanya mengelus dada dan terharu
Ia tak merasa membanggakan diri dengan keajaiban ini
Ia hanya bersyukur tuhan telah menggantikan setitik keringat asin nan bau
Dengan sejuta keringat harum nan segar mengalir yang tak membuat resah orang-orang disekitar

selengkapnya



Aku yang semakin menangis
Aku yang semakin bersedih
Mengapa negaraku seperti ini
Apakah ini karma atau kutukan

Rakyatku, saudaraku semakin terlena
Tapi kenapa ini terjadi
Yang kaya makin sibuk korupsi
Yang makin sibuk menutupi dirinya




Tapi yang miskin semakin terinjak
Ingin korupsi,, apa yang harus dikorupsi
Bayangan dosa dan rasa takut selalu menghadang

Teruslah berjuang KPK Ku
Selamaatkan bangsa ini dari bandit-bandit rakyat
Selamatkan bangsa ini dari tikus-tikus kantor yang semakin bebas berkeliaran
Selamatkan bangsa ini dari pencuri uang rakyat

selengkapnya
Langganan: Entri (Atom)